Pesisir Barat – Sambut tahun baru Islam, Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat menggelar Gebyar 1 Muharam 1447 Hijriah bertajuk Pesisir Barat Bersholawat.
Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut diawali dengan pawai dakwah yang diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari pelajar, organisasi keagamaan, majelis taklim, hingga komunitas masyarakat dari berbagai kecamatan.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan Tabligh Akbar yang menghadirkan Pimpinan Pondok Pesantren Darul Fatah Way Bungur, Lampung Timur, K.H. M. Muslih, sebagai penceramah.
Bupati Pesisir Barat, Dedi Irawan, mengatakan peringatan Tahun Baru Islam tidak semata-mata menjadi penanda pergantian kalender Hijriah, melainkan momentum refleksi bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas diri dan kehidupan bermasyarakat.
Menurut dia, semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW mengandung nilai-nilai perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah SWT, tetapi juga menyangkut hubungan sosial antarsesama.
Dalam kesempatan yang sama, K.H. M. Muslih mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat terhadap penyelenggaraan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, komitmen pemerintah daerah dalam menggelar Tabligh Akbar menyambut Tahun Baru Islam menunjukkan adanya perhatian terhadap pembinaan kehidupan spiritual masyarakat.
Ia berharap Kabupaten Pesisir Barat dapat berkembang menjadi salah satu pusat peradaban Islam di Provinsi Lampung pada masa mendatang. Untuk mewujudkan hal tersebut, masyarakat diajak untuk terus mendukung kegiatan keagamaan sekaligus menjaga dan melestarikan budaya lokal.
Menurut Muslih, agama dan budaya merupakan dua unsur yang saling melengkapi dalam membangun peradaban masyarakat. Ia mengibaratkan budaya sebagai jasad dan agama sebagai ruh yang memberikan arah serta makna.
Ia juga menyinggung pentingnya menjaga tradisi Ngumbai Lawok sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Lampung. Berdasarkan sejumlah literatur budaya, tradisi tersebut memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan cara masyarakat Lampung mempertahankan nilai-nilai kemandirian pada masa kolonial.
Menurutnya, masyarakat saat itu lebih memilih menyalurkan hasil dan rasa syukur mereka kepada alam melalui tradisi sedekah laut daripada menyerahkan upeti kepada pemerintah kolonial Belanda. Karena itu, Ngumbai Lawok tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mengandung pesan historis tentang kearifan lokal, solidaritas sosial, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
sundalanews.com Suara Nasional Dari Lampung