Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polda Lampung Ikuti Dialog Kebangsaan Terkait Penguatan Tri Brata dan Catur Prasetya di Era Digital

BANDAR LAMPUNG (sundalanews.com) – Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Kepolisian Daerah (Polda) Lampung mengikuti kegiatan Dialog Kebangsaan yang digelar secara hibrida.

Kegiatan juga diikuti oleh Polres dan Polsek Jajaran secara daring, berfokus pada penguatan nilai-nilai luhur Tri Brata dan Catur Prasetya guna menghadapi tantangan tugas Polri yang semakin kompleks di era digital dan lanskap siber, Senin (22/6/2026).

Dialog Kebangsaan kali ini menghadirkan narasumber sekaligus motivator nasional terkemuka, Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian.

Berdasarkan materi yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, Dialog Kebangsaan kali ini menyoroti tema utama “Era Digital dan Kompleksitas Kamtibmas”.

Dalam pemaparannya yang bertajuk penguatan integritas anggota di era digital, ia menekankan pentingnya perubahan mendasar dari dalam diri setiap personel Polri, terutama bagaimana nilai-nilai luhur institusi bertransformasi nyata dari sekadar pemahaman menjadi perilaku sehari-hari, serta dari perilaku konsisten menjadi sebuah karakter yang melekat kuat

Terdapat empat poin latar belakang krusial yang menjadi fokus pembahasan dalam menyikapi dinamika keamanan modern:

  1. Lanskap Disrupsi Digital dan Kompleksitas Kamtibmas: Perkembangan teknologi informasi yang masif telah mengubah lanskap kehidupan masyarakat secara radikal menuju era Society 5.0. Selain menghadirkan kemudahan, transformasi ini juga melahirkan ruang siber (cyberspace) sebagai domain baru dalam kehidupan bernegara yang memicu pergeseran bentuk kejahatan konvensional menjadi kejahatan berbasis digital (cybercrime) yang bersifat lintas batas, anonim, dan kompleks. Fenomena ini menuntut Polri untuk memiliki kapasitas yang melampaui metode kepolisian tradisional.
  2. Paradoks Teknologi dan Kebutuhan SDM Polri Presisi: Untuk merespons tantangan zaman, Kapolri telah menetapkan visi Transformasi Menuju Polri yang Presisi (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan). Penguatan aspek teknologi di satu sisi memberikan kecepatan dan efisiensi, namun di sisi lain memperluas risiko kerentanan etika di ruang digital bagi personel Polri. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan melekat karena kesalahan etika digital dari seorang oknum dapat dengan cepat meruntuhkan legitimasi dan kepercayaan publik (public trust) terhadap institusi Polri secara keseluruhan.
  3. Degradasi Etika Digital dan Tantangan Kultural: Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa modernisasi fasilitas belum sepenuhnya diiringi dengan kesiapan mental-kultural yang kokoh. Munculnya fenomena pelanggaran kode etik oleh personel di media sosial menunjukkan adanya celah (gap) dalam pembentukan karakter. Hal ini membuktikan bahwa kecanggihan teknologi hanyalah sebuah alat (tools), yang jika tidak dikendalikan oleh moralitas yang kuat justru dapat menjadi bumerang yang merusak integritas penegakan hukum.
  4. Revitalisasi Tri Brata dan Catur Prasetya sebagai Solusi Jangka Panjang: Untuk menjembatani jurang antara kecanggihan teknologi dan integritas moral, Polri menekankan pentingnya kembali kepada akar filosofinya, yaitu Tri Brata (sebagai pedoman hidup) dan Catur Prasetya (sebagai pedoman kerja). Di era digital, nilai-nilai luhur ini harus direvitalisasi, diinterpretasikan ulang, dan diperkuat intensitasnya ke dalam sanubari setiap personel agar menjadi standar operasional moral dalam menegakkan hukum secara transparan dan berkeadilan.

Mewakili Kapolda Lampung, Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum krusial bagi seluruh jajaran untuk melakukan introspeksi dan penguatan mental.

“Tantangan Polri ke depan, khususnya di wilayah hukum Polda Lampung, tidak lagi hanya berada di ruang fisik melainkan sudah merambah ke ruang digital. Oleh karena itu, integritas personel adalah harga mati. Kita tidak ingin kecanggihan teknologi yang kita miliki justru disalahgunakan atau menurunkan citra Polri akibat pelanggaran etika digital oleh oknum di media sosial,” ujar Yuni.

Melalui Dialog Kebangsaan ini, Polda Lampung berkomitmen penuh untuk terus melakukan pembinaan internal serta penguatan karakter terhadap seluruh jajaran personel.

Dengan menjadikan Tri Brata dan Catur Prasetya sebagai kompas moral, diharapkan setiap anggota Polri, khususnya di jajaran Polda Lampung, mampu menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang profesional, humanis, serta beretika, baik di dunia nyata maupun di ruang digital demi menjaga situasi kamtibmas yang kondusif.

Bagikan Ke

About Redaksi Sundalanews

Check Also

Expo dan Seminar Bisnis IIB Darmajaya Dorong Jiwa Wirausaha dan Kepedulian Sosial

BANDAR LAMPUNG (sundalanews.com) – Gelaran EXPO UMKM X Mahasiswa di Lapangan Basket IIB Darmajaya pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *