Bandar Lampung (Sundalanews.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Lampung mengalami inflasi sebesar 0,54 persen secara bulanan (month-to-month / mtm) pada Oktober 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,14 persen (mtm), sekaligus melampaui rata-rata inflasi Oktober dalam tiga tahun terakhir yang tercatat sebesar 0,32 persen (mtm).
Secara tahunan (year-on-year / yoy), inflasi Lampung berada di level 3,83 persen, lebih tinggi dari tingkat inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,23 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung Bimo Epyanto, melalui keterangan persnya menyatakan bahwa tren inflasi tersebut masih terjaga dalam rentang sasaran nasional 2,5 ± 1 persen hingga akhir 2026. Kendati demikian, berbagai langkah mitigasi terus diperkuat guna mengantisipasi risiko lanjutan.
Pemicu Utama Inflasi: Kelompok Makanan dan Faktor Cuaca
Kenaikan inflasi Oktober 2026 terutama disumbang oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Komoditas utama penyumbang andil inflasi terbesar meliputi:
Cabai merah: 0,22% (mtm)
Bawang merah: 0,07% (mtm)
Tomat: 0,04% (mtm)
Beras: 0,04% (mtm)
Cabai rawit: 0,04% (mtm)
Kenaikan harga aneka cabai dan bawang merah dipicu oleh berkurangnya pasokan akibat berakhirnya masa panen serta penurunan produktivitas tanaman imbas musim kemarau.
Sementara itu, kenaikan harga beras didorong oleh penurunan produksi pascapanen gadu yang diperparah oleh peningkatan intensitas fenomena El Niño. Adapun lonjakan harga tomat terjadi akibat tingginya permintaan di tengah keterbatasan pasokan karena kekeringan.
Disisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga (deflasi), antara lain terong (-0,03%), daging ayam ras (-0,02%), minyak goreng (-0,02%), jagung manis (-0,01%), serta emas perhiasan (-0,02%) yang mengikuti tren koreksi harga emas di pasar global.
Proyeksi dan Mitigasi Risiko Inflasi ke Depan
Memasuki akhir tahun 2026 hingga awal 2027, Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung mewaspadai sejumlah risiko dari tiga komponen utama pembentuk inflasi:
- Inflasi Inti (Core Inflation): Bersumber dari volatilitas harga emas global akibat dinamika geopolitik, pergerakan nilai tukar dolar AS, suku bunga global, potensi penurunan produksi CPO dan gula akibat El Niño, serta kenaikan harga komponen cip global yang mendongkrak biaya impor barang elektronik.
- Bahan Makanan Bergejolak (Volatile Food): Risiko meliputi potensi karhutla, gangguan produksi akibat El Niño, panen gadu yang kurang optimal, persaingan pembelian gabah oleh agen luar daerah yang mengurangi pasokan penggilingan lokal, serta ketidakpastian cuaca maritim bagi pasokan ikan.
- Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Prices): Dipengaruhi oleh potensi kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik, penurunan stok minyak mentah AS, serta tingginya harga energi global dan acuan LPG internasional.
Strategi Pengendalian Inflasi Melalui Konsep 4K
Guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, Bank Indonesia bersama TPID Provinsi Lampung memperkuat implementasi strategi 4K, yang meliputi:
- Keterjangkauan Harga: Optimalisasi operasi pasar beras/SPHP secara terarah serta penguatan pemantauan harga melalui PIHPS, SPH, dan SP2KP.
- Ketersediaan Pasokan: Optimalisasi Toko Inflasi di Kota Metro dan Bandar Lampung, mendorong peningkatan produksi hortikultura (penerapan smart fertigation dan greenhouse), serta mitigasi El Niño melalui sumur bor dan penyesuaian kalender tanam.
- Kelancaran Distribusi: Memperkuat Kerja Sama Antar-Daerah (KAD) komoditas cabai dan bawang merah (seperti rute Kulon Progo–Kota Metro dan Solok–Bandar Lampung) serta mengoptimalkan Fasilitas Distribusi Pangan (FDP).
- Komunikasi Efektif: Memperkuat integrasi data harga dan neraca pangan melalui Early Warning System (EWS) seperti piloting e-Horti, mempererat koordinasi lewat High-Level Meeting (HLM) TPID, serta meningkatkan edukasi publik terkait produktivitas dan perlindungan usaha tani.
sundalanews.com Suara Nasional Dari Lampung