Lampung Selatan (sundalanews.com) – Rombongan tokoh adat Saibatin Lampung Selatan, bersama tokoh masyarakat dan perwakilan organisasi kemasyarakatan, menggelar pertemuan publik Di Lamban Balak kesugihan kalianda lampung selatan untuk menyampaikan keprihatinan dan permintaan tegas terkait terjadinya serangkaian longsor di kawasan Gunung Rajabasa. Mereka mendesak Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Lampung Selatan, serta kementerian terkait di pusat untuk segera mengambil tindakan nyata demi kelestarian alam dan keselamatan masyarakat.
Pernyataan sikap bersama disampaikan oleh Bapak Haji Budi Setiawan ( RADEN PAKSI SETIA MARGA ) marga rajabasa sebagai juru bicara para tokoh adat Lampung Selatan, didampingi langsung oleh Pangeran Azhar Pngeran Tihang Marga Marga Legund, Pangeran Rajabasa (Marga Rajabasa), serta puluhan perwakilan dari berbagai organisasi masyarakat lokal.
“Kami tidak bisa lagi berdiam diri melihat kondisi Gunung Rajabasa yang semakin memprihatinkan. Longsor yang terjadi beberapa waktu terakhir bukan hanya masalah fisik pada lereng gunung, melainkan peringatan bahwa keseimbangan alam yang selama ini kita jaga telah terganggu,” ucap Haji Budi dalam sambutannya.
Menurutnya, Gunung Rajabasa bukan hanya memiliki nilai ekologis sebagai penyangga daerah aliran sungai dan penahan banjir, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas budaya dan spiritual masyarakat Saibatin Lampung Selatan. “Hutan di sekitar Gunung Rajabasa adalah warisan leluhur yang harus kita lestarikan untuk anak cucu. Kerusakan pada hutan akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, mulai dari kelangkaan air hingga ancaman bencana yang lebih besar,” tambahnya.
Pangeran Tihang Marga dari Marga Legund menambahkan bahwa kearifan lokal masyarakat adat telah lama mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam. “Kami sebagai tokoh adat siap berkolaborasi penuh dengan pemerintah dalam melakukan konservasi dan pemulihan ekosistem. Namun, yang kami harapkan adalah tidak ada lagi penundaan dalam mengambil tindakan. Periksa kondisi tanah, evaluasi kebijakan pengelolaan hutan, dan lakukan restorasi pada area yang sudah rusak,” tegasnya.
Sementara itu, Pangeran Rajabasa mengingatkan bahwa kepentingan masyarakat luas harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan yang diambil. “Banyak warga yang tinggal di sekitar kaki Gunung Rajabasa bergantung pada sumber daya alam di sana untuk kehidupan sehari-hari. Jika kondisi alam terus memburuk, bukan hanya keselamatan yang terancam, tetapi juga mata pencaharian mereka,” jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut, para tokoh juga menyampaikan beberapa poin permintaan utama kepada pemerintah, antara lain:
- Segera melakukan survei menyeluruh terhadap kondisi geologi dan ekosistem di kawasan Gunung Rajabasa
- Melakukan tindakan restorasi hutan dan penanaman pohon pada area rawan longsor
- Menetapkan zona perlindungan khusus di sekitar kawasan konservasi Gunung Rajabasa
- Menyelenggarakan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mitigasi bencana
- Membentuk tim kerja bersama antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat untuk mengelola kawasan secara berkelanjutan
“Kami berharap pemerintah tidak tinggal diam dan segera bersikap. Kelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh komponen masyarakat. Mari kita bergandengan tangan untuk menyelamatkan Gunung Rajabasa demi kepentingan bersama,” pungkas Haji Budi pada akhir pernyataan.
Hingga saat berita ini diterbitkan, pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lampung Selatan telah mengkonfirmasi bahwa akan segera mengirim tim peneliti dan teknisi untuk melakukan peninjauan langsung di lokasi kejadian longsor.
sundalanews.com Suara Nasional Dari Lampung