BANDAR LAMPUNG (Sundalanews.com): Terkait dugaan ada ketidaksesuaian antara jumlah liter yang dibeli dengan hasil yang didapat di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bernomor 24.352.127 di Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Pengajaran, Telukbetung Utara, Kota Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.
Berdasarkan pemeriksaan dari Badan Metrologi Kota Bandar Lampung, yang dilakukan oleh Peneramadia bidang metrologi, Malik dan disaksikan pihak Polsek Teluk Betung Utara, diketahui bahwa SPBU Pengajaran telah sesuai dengan takaran yang ada. Pemeriksaan dilakukan menggunakan tera benjana ukur.
Berdasarkan empat kali hasil pemeriksaan Badan Metrologi tiap 20 liter pertamax menggunakan benjana ukur, pada pemeriksaan pertama keluar hasil 20ml plus, pemeriksaan kedua 20ml plus, dan pemeriksaan ketiga 15ml plus, pemeriksaan keempat 30ml plus.
“Hasil pemeriksaan menunjukan bahwa mesin sudah sesuai dan berfungsi dengan baik. Malah dihasil pemeriksaan ada kelebihan rata-rata 20ml per 20 liter. Artinya mesin berjalan sesuai dengan aturan dan pas, serta tidak ada masalah,” ujar Penera Madya Bidang Metrologi Kota Bandar Lampung, Malik, Jumat (18/2/2022).
Sementara, Perwakilan Polsek Teluk Betung Utara Ipda Erwin mengatakan, pihaknya bersama jajaran sudah melihat langsung hasil ukur dari Badan Metrologi Kota Bandar Lampung. “Kita sudah lihat bersama, hasilnya akan dilaporkan terlebih dahulu ke atasan. Kita belum bisa menyimpulkan,” kata dia.
Supervisor SPBU Pengajaran Maulana Alan mengatakan, pihaknya telah menjalankan standar operasional perusahaan (SOP) dengan baik. Pihak SPBU sendiri dilakukan pemeriksaan oleh Badan Metrologi rutin dan secara berkala, dan juga setiap hari melakukan pengecekan menggunakan alat ukur dari Badan Metrologi.
“Ini terbukti dari hasil empat kali pemeriksaan Badan Metrologi menggunakan benjana ukur dimana hasilnya rata-rata plus 20ml atau lebih. Kita selalu dilakukan pengecekan oleh Badan Metrologi rutin. Kita juga ada alat dari metrologi untuk mengukur yaitu tera benjana ukur. Kita juga selalu periksa tera nozle,” kata dia, Jumat (18/2/2022).
Terkait kronologis kejadian yang sempat heboh kemarin, Alan menjelaskan bahwa alat ukur yang digunakan konsumen belum pas. Konsumen melakukan pengukuran menggunakan jerigen, lalu dari jerigen diukur ulang menggunakan alat ukur sendiri yang tidak sesuai ketentuan.
“Alat ukur konsumen ini tidak sesuai, karena yang diukur adalah bbm jenis pertamax. Bbm jenis pertamax ini sangat terpengaruh oleh cuaca, jika panas akan cepat memuai. Pemeriksaan yang dilakukan oleh konsumen dari nozle ke jerigen dan dari jerigen ke alat ukur sendiri yang diduga bbm jenis pertamax telah terjadi pemuaian,” jelas dia.
Ia juga menerangkan, bahwa konsumen sering mengukur pengisian bbm berdasarkan amphere spedometer di kendaraan bermotornya, sedangkan takaran meterrologi itu tera. “Saat mengisi bbm sering terjadi pemuaian yang terjadi akibat cuaca. Jika panas maka bbm ini cepat memuai, sedangkan jika suhu dingin tidak,” terang dia.(Sndl)
sundalanews.com Suara Nasional Dari Lampung