Siswa/I SMKN 1 Tegineneng Belajar Validasi Produk & Jasa Melalui Prototipe dari Dosen Kampus Unggul Darmajaya

BANDAR LAMPUNG (sundalanews.com) — Mengembangkan produk atau jasa tidak cukup hanya bermodalkan ide. Sebelum benar-benar diluncurkan ke pasar, diperlukan proses pengujian untuk memastikan produk mampu menjawab kebutuhan pengguna.
Hal tersebut disampaikan Dosen Program Studi Bisnis Digital IIB Darmajaya sekaligus Kepala UPT Inkubator Bisnis dan Teknologi, Lilla Rahmawati, S.Sos., M.M., kepada siswa SMKN 1 Tegineneng pada Rabu, (16/9/26).


Adapun materi yang disampaikan yakni “Validasi Produk & Jasa Melalui Prototipe”, Lilla mengajak peserta memahami pentingnya membuat prototipe sebagai sarana belajar, menguji ide, memperoleh umpan balik, dan melakukan perbaikan sebelum sebuah produk atau jasa dikembangkan lebih jauh.


Lilla menjelaskan, prototipe bukan sekadar bentuk awal dari sebuah produk, tetapi menjadi media untuk mengetahui apakah asumsi yang dibangun oleh pembuat produk sesuai dengan kebutuhan dan respons pengguna.“Tujuan prototipe adalah belajar, bukan meluncurkan. Kita membuat sesuatu yang sederhana terlebih dahulu, kemudian diuji, mendapatkan feedback, diperbaiki, dan kembali diuji,” jelasnya dalam materi.


Ia menggambarkan proses tersebut sebagai sebuah siklus yang terus berulang, mulai dari asumsi, pembuatan prototipe, pengujian kepada pengguna, mendapatkan feedback, hingga melakukan perbaikan.


Menurut Lilla, semakin awal sebuah ide diuji, semakin kecil risiko investasi yang harus dikeluarkan ketika ternyata produk masih membutuhkan perubahan. “Menemukan retakan di kertas jauh lebih baik daripada menemukannya di beton. Artinya, kesalahan dalam tahap awal prototipe masih lebih mudah dan murah untuk diperbaiki dibandingkan ketika produk sudah terlanjur diproduksi atau diluncurkan dalam skala besar,” terangnya.

Dalam pembelajaran tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan empat bentuk prototipe yang dapat dikembangkan oleh berbagai bidang keahlian, yakni produk fisik, produk digital, jasa atau layanan, serta proses atau sistem.
Untuk produk fisik, prototipe dapat berupa sampel, mock-up, model sederhana, maupun produk yang belum sepenuhnya sempurna. Sementara produk digital dapat menggunakan wireframe, prototype aplikasi, maupun rancangan antarmuka.


Adapun untuk jasa, prototipe dapat berupa skenario atau storyboard pengalaman pelanggan. Sedangkan proses atau sistem dapat divisualisasikan melalui diagram alur maupun simulasi tahapan layanan. “Tidak harus menunggu produk sempurna untuk mendapatkan respons pengguna. Justru kita bisa membuat versi yang sederhana untuk mengetahui apa yang perlu diperbaiki,” kata Lilla.


Materi juga memperkenalkan tahapan pengembangan prototipe, mulai dari ide, sketsa, low-fidelity prototype, pengujian, hingga pengembangan menuju produk yang semakin siap digunakan.


Lilla menekankan bahwa validasi tidak sekadar menanyakan kepada orang lain apakah sebuah produk bagus atau tidak. Peserta diajak membedakan antara asumsi dan opini dengan validasi nyata. Pengujian dilakukan dengan memperhatikan perilaku pengguna, mengajukan pertanyaan kontekstual, serta melihat respons terhadap prototipe yang diberikan.


Dalam proses validasi, terdapat empat pilar yang perlu diperhatikan, yaitu willingness, value, usability, dan desirability. Keempat aspek tersebut membantu pembuat produk memahami apakah solusi yang ditawarkan dibutuhkan, bermanfaat, mudah digunakan, dan diinginkan oleh pengguna.


Lilla juga mengingatkan peserta agar tidak terjebak dalam pertanyaan yang mengarahkan jawaban. “Daripada bertanya, ‘Menurut kamu produk kami bagus, kan?’ lebih baik gunakan pertanyaan terbuka seperti, ‘Coba gunakan prototipe ini, apa yang kamu rasakan?’ atau ‘Bagian mana yang menurut kamu perlu diperbaiki?’” paparnya.


Melalui materi tersebut, siswa SMKN 1 Tegineneng tidak hanya diperkenalkan pada konsep pembuatan produk, tetapi juga pola pikir technopreneur yang menempatkan pengguna sebagai bagian penting dalam proses pengembangan.


Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi IIB Darmajaya dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman di bidang bisnis digital, kewirausahaan, inovasi, dan pengembangan produk kepada generasi muda, khususnya siswa sekolah menengah kejuruan agar lebih siap menciptakan solusi yang bernilai dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. (**)

Bagikan Ke

About Redaksi Sundalanews

Check Also

Pemprov Lampung Satukan Kekuatan Lintas Sektor Percepat Perhutanan Sosial

Bandar Lampung (sundalanews.com) – Sekretaris Daerah (Sekdaprov) Provinsi Lampung Marindo Kurniawan memimpin Rapat Pembahasan Format …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *