Pesisir Barat (sundalanews.com) – Kapan kami bisa menikmati Jalan yang layak dan bisa digunakan setiap saat. Pertanyaan itulah yang selalu muncul didalam benak lamunan para warga Way Haru kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung.
Kenapa tidak, ketika masyarakat di kota menikmati Jalan tol dan mobil lamborghini di Way Haru masyarakat masih menggunakan grobak dan sapi.
Ketika malam tiba di Way Haru tak ada listrik dan penerangan PLN hanya suasana hening dan sepi jauh dari hiruk pikuk seperti suasana di perkotaan.
Mengunjungi Pekon Way Haru membuat hati siapapun pasti akan bergetar.

Pilu rasanya melihat ketimpangan yang ada. Jika kita melihat Daerah pusat kota dihuni gedung-gedung tinggi, jalan raya, lampu penerangan, akses internet cepat dan infrastruktur lain yang memadai.
Semua itu berbanding terbalik di desa Way Haru, hanya sekedar akses jalan yang layak digunakan saja warga Way Haru hingga kini belum pernah mereka rasakan.
” Kami sudah pernah bergabung di tiga Provinsi, yaitu Sumatra Selatan, keresidenan Bengkulu dan saat ini tergabung di Provinsi Lampung,” ucap Muhamad Romzi tokoh Adat Sai Batin Way Haru Marga Belimbing.
” Kami juga sudah pernah tergabung di tiga Kabupaten yaitu Lampung Utara, Lampung Barat dan kini Pesisir Barat Lampung, namun nyatanya nasib kami masih sama, tidak ada yang berubah,” lanjutnya.
Romzi melanjutkan, jika berbicara sejarah, maka warga Way Haru marga Belimbing itu sudah tinggal disana sejak 1814 yang lalu.
Moyang kami juga ikut berjuang dalam merebut kemerdekaan Republik ini, namun nyatanya hingga kini masyarakat kami belum juga merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya.
” Yang jelas sila kelima yang mengatakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu tidak pernah kami rasakan hingga saat ini,” ucapnya.
Untuk di ketahui Way Haru merupakan satu satunya desa yang masih terisolir hingga saat ini di Pesisir Barat Lampung.
Terhimpit diantara samudra Hindia dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berada di ujung Kecamatan Bengkunat.
Masyarakat Way Haru hingga kini masih menggunakan grobak dan sapi untuk mode angkutan transportasi mereka guna membawa barang yang akan keluar masuk dari Way Haru menuju Desa Way Heni.
Jalan menuju Way Haru juga sangat sulit, penuh lumpur dan berlubang cukup dalam.
Kedalaman lubangnya juga hingga lutut orang dewasa.
” Rasanya kami hanya digunakan sebagai komunitas politik saja, setiap musim Pemilu tiba,” beber Muhamad Romzi.
Tokoh adat Marga Belimbing itu kemudian menceritakan, setiap musim Pemilu tiba mereka selalu diberikan janji akan dibuatkan jalan penghubung dari Way Haru ke Way Heni.
” Mereka para politikus itu selalu berjanji saat kampanye, jika saya jadi maka saya akan bangun jalan, jika kami menang kami akan buatkan jalan, namun mana buktinya,” tanya dia.
Hal itu menurut Romzi membuat masyarakat Way Haru sudah tidak percaya lagi dengan janji kampanye oleh para polikus.
Bahkan lebih jauh menurut Romzi masyarakat Way Haru Marga Belimbing berniat akan memboikot Pemilu serentak pada 2024 mendatang.
” Apagunanya kami memilih Presiden, Gubernur, Bupati, DPR RI, DPRD jika nyatanya nasib kami selalu begini,” ucapnya.
” Mana program Presiden Jokowi yang katanya Indonesia terang itu, nyatanya kami di Way Haru masih gelap gulita seperti ini tak ada listrik,” sambungnya.
Romzi melanjutkan, warga Way Haru sangat berharap adanya penerangan listrik dan dibuatkan jalan yang layak bisa digunakan setiap saat.
” Kami hanya minta dibuatkan jalan yang layak bisa dipakai setiap saat, meskipun hanya 1 Meter,” ungkapnya.
” Kami mohon kepada Gubernur dan Bapak Presiden untuk memperhatikan nasib warga Way Haru yang berjumlah belasan ribu jiwa ini,” ujar Muhammad Romzi dengan penuh harap. (Yus/Adi)
sundalanews.com Suara Nasional Dari Lampung