Kapolres Buru, Mediasi PT Inagro Bersama Masyarakat Adat Buru Lakukan Ritual Tanam Perdana

Buru (Sundalanews.com) – Bertempat di lahan perkebunan di kawasan Kecamatan Fena Leisela, Kabupaten Buru, masyarakat adat Buru bersama PT Inagro Cipta Nusantara (PT Inagro) menggelar ritual adat nanlahin diikuti dengan prosesi penanaman perdana menandai dimulainya operasi perusahaan di atas lahan tersebut. (20/5/2024)

Sebelumnya diberitakan bahwa Puluhan orang melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Buru, Senin (22/4/2024) menolak kehadiran PT Inagro di Desa Bara, Kecamatan Airbuaya, Kabupaten Buru. Kemudian atas prakarsa Kapolres Buru, AKBP Sulastri Sukidjang dilakukanlah proses mediasi yang berbuah manis. Kapolres Buru dalam proses mediasi menaruh harapan agar penyelesaian konflik lahan antara warga desa Bara dengan Soa Gibrihi dapat dibicarakan dengan damai dan tanpa konflik.

“Maksud saya mengundang bapak-bapak disini adalah untuk melakukan mediasi. Hari ini Polres Buru sengaja menghadirkan semua pihak untuk menyelesaikan persoalan. Saya berharap dapat diselesaikan dengan kepala dingin sehingga semua persoalan dapat terselesaikan”, ucap Kapolres Buru dalam sambutannya.

Mediasi berbuah manis. Semua pihak menyepakati 7 (tujuh) poin yang ditandatangani bersama sebagai berikut:

  1. Bahwa masyarakat desa Bara mengakui Desa Bara masuk wilayah adat petuanan Leisela;
  2. Kedua belah pihak bersepakat untuk berdamai dan tunduk patuh serta taat kepada Raja Leisela;
  3. Persoalan dengan batas Soa Gibrihi dan desa Bara akan dibicarakan kembali yang dipimpin oleh Raja Leisela;
  4. Kerugian material dari masyarakat desa Bara atau desa yang lain atas tanaman yang digusur oleh PT. Inagro Cipta Nusantara segera diselesaikan;
  5. Kedua belah pihak mendukung kepada PT. Inagro Cipta Nusantara untuk tetap beroperasi dan tidak ada yang menghambat, bilamana terjadi tindak pidana dari masyarakat setempat diserahkan kepada pihak kepolisian;
  6. Kedua belah pihak sepakat untuk menjaga situasi kamtibmas di wilayah petuanan Leisela dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait kesepakatan hari ini;
  7. Terhadap pihak BPN (Badan Pertahanan Nasional) Kabupaten Buru segara melaksanakan pengembalian batas tanah sesuai dengan sertifikat.

Menindaklanjuti kesepakatan tersebut, ritual adat penanaman perdana dilakukan. Ritual adat yang dihadiri oleh para raja dan pemangku adat petuanan se-Kabupaten Buru serta perwakilan desa Bara tersebut menandai telah berakhirnya konflik. Selain itu, prosesi ini menunjukkan bentuk dukungan bulat dari masyarakat adat Kabupaten Buru atas investasi yang didatangkan oleh PT Inagro.

Dalam sambutannya, Arif Hentihu, Wakil Raja Petuanan Leisela mengemukakan bahwa ritual adat nanlahin merupakan suatu kebiasaan turun temurun di kalangan masyarakat adat Buru yang selalu dilakukan sebelum memulai proses menanam. Tujuannya agar proses yang dilakukan mendapatkan restu dari alam semesta sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan generasi.

“Ritual adat nanlahin ini di kita di Buru biasa dilakukan sebelum menanam dengan harapan kalau boleh tanaman tumbuh subur dan bermanfaat bagi anak-cucu”, ungkapnya

Arif melanjutkan bahwa proses penanaman dan produksi tidak akan terlaksana tanpa adanya dukungan semua pihak. Mewakili petuanan Leisela, Arif menyampaikan apresiasinya atas kerja keras kepolisian resort Buru yang mengedepankan aspek humanisme dalam penyelesaian persoalan.

“Lebih khusus saya ingin sampaikan terima kasih serta apresiasi kepada ibu Kapolres Buru yang telah sabar mendorong penyelesaian masalah kami terkait lahan dan perusahaan ini yang akhirnya bisa selesai dengan damai dan semoga manfaat buat katong semua”, ungkapnya.

Proses ini turut disambut baik oleh PT Inagro. Arsad Souwakil, perwakilan PT Inagro menyatakan bahwa dengan terlaksananya kegiatan ini diharapkan proses selanjutnya menjadi semakin lancar dan produktif.

“Kami berharap proses kedepan semakin berjalan lancar dan manfaat perusahaan bisa dinikmati masyarakat secara luas.”, tuturnya

Publik khususnya masyarakat Kabupaten Buru patut berbahagia. Pasalnya, perseteruan lahan antara desa Bara dan Soa Gibrihi telah berlangsung cukup lama dan selama itu pula belum dapat ditemukan titik temu yang baik untuk semua pihak.

Tercatat bahwa perseteruan tersebut telah terjadi sejak tahun 2003, bahkan telah sampai ke meja pengadilan. Bukannya mereda, perseteruan justru semakin meruncing. Kehadiran PT Inagro seolah menjadi pemicu muncul kembalinya luka lama.

Untungnya, persoalan-persoalan mampu diselesaikan dengan duduk bersama dan mengedepankan hukum adat. Hal ini sekaligus merupakan momentum positif dimana eksistensi hukum adat diakui dan ternyata mampu menjadi solusi penyelesaian konflik di kalangan masyarakat Kabupaten Buru.(KL25)

Bagikan Ke

About Redaksi Sundalanews

Check Also

Walikota Metro Kurban Tiga Sapi dan Dua Ekor Kambing di TMII

METRO (sundalanews.com) – Wali Kota Metro, Wahdi Siradjuddin melakukan penyembelihan hewan kurban miliknya yakni tiga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Find us on Facebook